Mengimani Allah

Indonesia yang kita diami adalah negeri yang sedang sakit. Meskipun Allah melimpahi dengan alamnya yang indah dan kekayaan alamnya yang berlimpah, namun masyarakatnya sangat menyedihkan. Beberapa karakter yg melekat antara lain munafik, percaya tahayul, fanatic, fatalistic, dan ‘lebay’.
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang religious namun sayangnya tidak memiliki kedalaman spiritual yang memadai. Masjid, gereja, dan tempat beribadah ada di mana-mana. Orangnya pun rajin beribadah. Namun ketika keluar dari tenpat ibadah kita menjadi orang yang berbeda 180 derajat. Ketika beribadah kita menyembah Tuhan tapi ketika berbisnis kita memasa bodohkan Tuhan. Dosa dilakukan dengan tanpa beban seolah Allah tidak melihat dan bahkan seolah-olah Dia tidak pernah ada. Katanya percaya kepada Allah namun nyatanya tidak beriman kepada Allah. Saat kita di masjid, kita merasa Dia begitu dekat. Namun kita sungguh masih sulit membayangkan bahwa Allah ada di pasar, di kantor-kantor di tempat berbisinis, di kepolisian, kejaksaan dll,
Di dalam Al Qur’an tidak ada satu ayatpun yang menyatakan adanya Manusia yang tidak mengakui keberadaan Allah. Seorang dedengkot komunis dan atheis seperti Stalin pun di dalam hati sanubarinya yang paling dalam ternyata sangat merindukan Tuhan, walaupun dia menutupinya dengan berbagai cara. Ketika Stalin dan anggota politbironya dalam perjalanan menuju salah satu bagian Negara Rusia, tiba-tiba pesawatnya mengalami kerusakan mesin sehingga semua penumpang dalam keadaan panic dan mencekam. Tiba-tiba seorang penumpang berteriak panic “Tuhan, Tolonglah aku !” Ternyata yang berteriak adalah Stalin yang alam bawah sadarnya memanggil Tuhan walaupun dalam kesehariannya menentang adanya Tuhan.
Kalau bangsa Indonesia memang percaya kepada Allah, namun mengapa kita masih melakukan dosa-dosa bahkan dilakukan secara berjamaah ? Ternyata kita percaya kepada Allah, bahwa ia memang ada, namun kita menganggapnya sebagai sosok yang jauh. Kita tidak percaya bahwa Allah senantiasa melihat dan selalu dekat bersama kita setiap saat. Kita membayangkan dia sebagai Raja Diraja yang bersinggasana jauh di atas sana.
Bukankah Tuhan senantiasa ada di dekat kita ?
Bukankah Tuhan senantiasa memperhaikan kita
Bukankah sesungguhnya kita tidak pernah sendirian ?
Orang yang Cerdas adalah orang yang memiliki kesadaran bahwa Ia selalu bersama Tuhan dalam setiap Situasi. Yang selalu dapat melihat Tuhan, namun ketika ia tidak dapat melihat Tuhan, Ia sadar bahwa Tuhan senantiasa melihatnya. Ia yang begitu cinta kepada Allah sehingga tidak akan melakukan perbuatan tercela bukan karena takut akan hukuman Allah tapi ia tidak mau merusak cinta Allah kepadanya dan mengecewakannya.
Kesadaran bahwa kita tidak sendiri bukan hanya mencegah kita dari perbuatan tercela tapi juga menjadi penentram hati kita manakala mengalami cobaan, kekecewaan, kesedihan, kegelisahan serta ketakutan. Dalam kondisi sulit biasanya kita sering merasa sendirian. Orang yang sadar bahwa Tuhan selalu berada di dekatnya akan terhindar dari perasaan negative tersebut.

This entry was posted in 1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s