Reflexi

Akhir tahun adalah saat yang tepat bagi umumnya orang-orang untuk melakukan refleksi. Minimal Pijat Refleksi bagi yang pegel dan kecapekan dalam menggapai target dari perusahaan.

Sebelum Muhammad saw diangkat sebagai seorang Rasul yang mengemban misi risalah dan kepemimpinan sa alam dunya, beliau mempunyai kebiasaaan untuk menyingkir dari keramaian kota Mekah untuk menyepi di gua Hira. Kegiatan yang dilakukannya adalah bertahanuts atau melakukan refleksi terhadap apa yang dirasakannya, yang diyakininya dan yang dilihatnya. Para Presiden Amerika Serikat selalu menyempatkan diri pergi ke Camp David untuk berlibur dan melakukan Reflexi.

So, umumnya para Leader selalu menyempatkan diri untuk Time out dari kesibukannya untuk melakukan reflexi. Bagi seorang Pemimpin, reflexi is a must, agar dia bisa berkembang mengikuti perkembangan orang-orang yang dipimpinnya, organisasi maupun sistem di luar sono.

Jangan dulu menampik, oh saya kan bukan pemimpin, jadi tidak perlu reflexi dong. Ingat..Ingat… setiap diri adalah pemimpin (minimal bagi dirinya) dan setiap pemimpin akan ditanya pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dilakukannya.

Refleksi pada dasarnya dilakukan dalam 4 tahapan yaitu:
1. Adapt
2. Change
3. Learn
4. Grow

Sebagai makhluk yang lemah, manusia pada dasarnya tidak mengetahui apa yang terjadi di masa datang yang akan mempengaruhi hidupnya. Namun Manusia diberikan akal budi untuk dapat mensiasati kelemahan dan ketidaktahuannya tersebut melalui Refleksi.

Refleksi adalah proses untuk mengenali sesuatu yang tidak diketahui atau problem yang tidak bisa dipecahkan. Problem yang tidak terpecahkan menunjukkan bahwa ada sesuatu problem dalam pola pikir kita. Sometimes or may be all the times, solusinya ada pada diri kita karena problemnya ada pada diri kita.

Untuk mengenali masalah, maka seorang leader harus mampu mencium dan merasakan atmosfer lingkungannya baik secara sadar maupun tidak. pemahaman meliputi:
a. Level of Detail
b. Level of Pattern
c. level of Spirit

Refleksi dilakukan seorang leader untuk melakukan problem solving di tengah keheningan dengan cara relaks sejenak di tengah pergumulan masalah yang terjadi.

Keheningan alam ternyata sering membantu kita untuk memperlancar proses refleksi dan mencari jawaban terhadap permasalahan hidup ini. Kicau burung, aliran dan gemericik air sungai atau air hujan, bunyi guntur yang menggelegar, hembusan dan desau angin, bunyi jangkrik adalah inspirasi yang diberikan alam kepada kita yang sanggup menembus hati yang telah membeku.

Genghis Khan yang kita kenal sebagai penakluk Bagdad, Eropa dan Cina adalah seorang Pemimpin yang menemukan makna dari Reflexi yang dia lakukan dengan melihat alam. Saat ia menderita kekalahan dalam satu pertempuran, ia melarikan diri dalam keadaan terluka parah dan kemudian bersembunyi dalam suatu gua.
Saat itu ia merasakan kesedihan yang mendalam dengan kehilangan pasukan dan orang-orang yang mendukungnya.

Dalam perenungannya, ia melihat semut yang mencoba untuk mendorong sebutir biji yang ukurannya jauh lebih besar dari badannya sendiri. Dalam hatinya ia berfikir, tidak mungkin semut yang kecil tersebut mampu mendorong biji tersebut karena ukurannya yang lebih besar dari sang semut. Iseng-iseng diganggunya semut tersebut sehingga semakin tidak mampu mendorong biji tersebut.

Bukannya menyerah, sang semut tetap dengan gigih mendorong biji tersebut agar bisa dibawa ke lubang sarangnya. Akhirnya sang semut berhasil juga mendorong biji tersebut sedikit demi sedikit.

Perbuatan semut yang kecil dan gigih tersebut, menginspirasi Genghis Khan untuk bangkit dari kekalahannya dan membentuk lagi pasukannya yang lebih kuat untuk memenuhi cita-citanya menaklukan dunia.

Prose refleksi dapat dilakukan dengan 7 tahap sebagai berikut:
1. Setup condition.
Buatlah pengkondisian dengan membuat konteks antara tempat, waktu dan suasana.
2. Settle
Bukalah diri dan hati untuk menerima apapun kondisi sekitar.
3. Seeding
Mengajukan pertanyaan yang berkualitas dan mengambil refleksi dari alam sekitar.
4. Spiralling
Mengalir dan mengalun bersama alam sambil mendekati esensi masalah. Jangan langsung masuk ke dalam masalah tapi berputarlah seperti halnya kita melakukan thawaf di sekitar Kabah.
5. Self Reference
Buatlah referensi dari apa yang diperoleh dan bandingkan dengan diri sendiri.
6. New Insight
Dapatkan sudut pandang yang baru dari apa yang kita hadapi
7. Return to activity
Kembalilah ke aktivitas semula dengan sudut pandang yang lebih fresh.

Selamat melakukan refleksi… Semoga mendapatkan insight baru di tahun 2009…..

This entry was posted in 1. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s