Mencari jalan Menuju Shalat Khusyu

Shalat dengan khusyu adalah dambaan bagi setiap mukmin dan merupakan keberuntungan terbesar dalam hidup. Hal ini sejalan dengan Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Mukminun 1-2, “Telah beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.”

Menurut Abu Sangkan yang menulis buku tentang Shalat Khusyu, prinsip utama adalah jangan ‘mencari’ khusyu’. Cukup siapkan diri untuk ‘menerima’ khusyu’ itu, karena khusyu’ bukan kita yang membuatnya tapi ‘diberi langsung’ oleh Allah sebagai hadiah kita menemuiNya. 

Jadi pada saat shalat, sikap pertama kita adalah santai, nyaman dan rileks. Ibarat kita akan bertemu dengan Pejabat Tinggi, walaupun kita merasakan ketegangan namun kita harus berupaya rileks.  Berat badan mengumpul di kaki, mengakar ke bumi.  Abu Sangkan menggambarkan laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kokoh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh.

Bersikap rileks akan menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ karunia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan.

Shalat terdiri dari 3 komponen : Gerakan Fisik,  Gerakan Ruhani, dan Gerakan verbal dalam bentuk Bacaan.

Gerakan fisik berupa berdiri, rukuk, sujud dan duduk adalah gerakan basic dalam kehidupan. Namun demikian Badan fisik sebenarnya adalah alat yang akan mengantar ruh untuk berjumpa dengan Allah yang telah meniupkan ruh ke dalam badan fisik.

Fisik dan ruhani ibarat two-in-one, keduanya saling mengisi dan membutuhkan. Jika fisik sakit maka jiwa[un sakit begitu juga sebaliknya. Namun antara keduanya juga terdapat gap, maksudnya tidak selalu Fisik sejalan dengan ruhani karena merupakan dua hal yang berbeda.

Dalam hal shalat, Jika kita sholat di belakang imam yang ‘ngebut’ sholatnya bagaimana perasaan kita ? Rasanya Kesal. Baru mau selesai Al Fatihah, eh dia sudah ruku’. mau ruku’ eh dia sudah berdiri I’tidal. Dan seterusnya.

Ketika sholat, selain badan fisik kita ini sholat pula ruh kita.  Justru Ruh inilah yang sebenarnya ingin sholat, sementara fisik ini hanya sarana untuk mengantarnya dengan gerakan dan bacaan.  Sebenarnya Ruh ingin melaksanakan sholat dengan tenang, santai, tuma’ninah. Namun sayangnya ketika Fisik kita shalat ‘ngebut’, maka ruh menjadi jengkel karena selalu ketinggalan gerakan badan. Maka tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku’, tunggu, hingga ruh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, hingga ruh ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingga ruh ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.

Bacaan shalat  selayaknya dibaca dengan suara rendah dan pelan dan diresapi kesendirian untuk menangkap kehadiran Tuhan sesungguhnya amat dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri.   

Sebagai seorang yang pernah belajar Matematika dan Teknik, kondisi sejalan dengan konsep tentang kondisi transient dan steady state. Saat Transient maka sistem masih belum stabil dan berupaya menuju kondisi steady state atau stabil dan itu memang membutuhkan jeda waktu yang disebut waktu transient.

Berikan kesempatan ruh – untuk mengambil sikap sholatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita.

Karena itu shalatlah dengan Pelan dan Santai. kalau sedang malas baca, diam saja dan nikmati kepasrahan menemui Tuhan sedangkan bacaan sholat adalah sebagai media untuk dialog karena itulah  memang esensi sholat.

Esensi sholat adalah doa, berdialog dengan Allah secara langsung.

Shalat adalah waktu untuk audiensi dan kesempatan untuk mengadukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta dll. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.

Saat ruku’ ruku’lah yang  lama, sambil menarik regang kaki dan punggung saya. Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat ruh telah ikut sujud, bacalah dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). 

Ketika duduk setelah sujud, baca sepotong-sepotong bacaannya, sesuai tips buku itu.

Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). 

War hamnii (dan sayangilah aku),

Wajburnii. Diam.

War fa’nii. Diam.

Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah),

Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam,

Wa’aafinii (dan sehatkan aku).

Wa’fuannii (dan maafkan aku).

Rasakan semuanya hingga ruh merasakannya pula. Setelah shalat, sesuai dengan tips buku itu, berdoalah sambil meratap.  Ucapkan hanya, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti pengemis.Kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya. Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

This entry was posted in Islam and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Mencari jalan Menuju Shalat Khusyu

  1. nana says:

    bila kita membacanya dengan rileks insyaAllah terasa sejuk….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s