PROSESI KEBERANGKATAN

H

ari yang ditunggu-tunggupun tiba, maka kamipun bersiap-siaplah meninggalkan rumah tempat bernaung selama ini. Malam-malam menjelang keberangkatan adalah saat untuk melaksanakan sholat sunnah hajat, meminta kemudahan dan keselamatan kepada Allah Swt. Kami titipkan anak keluarga dan semuanya kepada Allah semata.

”Ya Allah, hamba pasrah padaMu, esok hamba tinggalkan anak-anak dan keluarga hamba dengan keridhoan dan rahmatMu. Hamba titipkan anak dan keluarga hamba. Jagalah mereka, bimbing mereka, berikan hidayah kepada mereka dan jadikan mereka anak yang sholeh yang mencintaiMu dan setia kepada Rasullullah SAW”.

Sebelum berangkat meninggalkan rumah, kami melaksanakanlah shalat sunnat safar meminta keselamatan kepada Allah Swt selama meninggalkan rumah dan melaksanakan perjalanan. Diiring tangis haru, kami berpamitan kepada orang tua, tetangga dan sanak famili; entahlah apakah ini adalah kepergian selamanya untuk tidak kembali, ataukah masih ada kesempatan kembali berkumpul handai taulan. Tak ada seorangpun yang bisa memastikannya.

Perjalanan Menuju Arab Saudi.

Perjalanan pesawat haji dari Indonesia Ke Arab Saudi kurang lebih memakan waktu 9 sampai 10 jam. Ada yang langsung ke Jeddah, ada yang ke Madinah dan ada pula yang harus transit di Abu Dabi. Prinsipnya, manfaatkan waktu tersebut dengan istirahat secukupnya, berdzikir dan memantapkan kembali manasik haji. Kadang hati gelisah, ingin segera bertemu dan menjadi tamu Allah. Namun bersabarlah, saat itu akan tiba tidak berapa lama lagi.

Melaksanakan Ihram.

Ketika diinformasikan bahwa kita sudah memasuki Yalamlam sebagai miqat, saatnya untuk memulai pertunjukan haji/umrah. Bersama beberapa orang yang mempunyai prinsip bahwa miqat adalah di Yalamlam, Kamipun berihram dengan niat umrah, mengganti pakaian duniawi dengan pakaian ihram disertai niat umrah. Agar mantap, niat tersebut dilafazkan dengan tegas dan dzahar. Ibu-ibu sudah memakai pakaian ihram sejak keberangkatan dari rumah. Namun demikian, sebagian besar jamaah haji berihram di Bandara King Abdul Azis Jeddah dengan alasan kepraktisan.

Tiba di Jeddah kita akan menghadapi proses imigrasi yang cukup memakan waktu. Sambil menunggu, kamipun melaksanakan melaksanakan beberapa tahapan ihram yang tertunda sewaktu di pesawat yakni mandi ihram dan Shalat sunnah ihram.

Sempurnalah sudah ihram kami yang berarti kami menandatangani Kontrak dengan Allah untuk mengharamkan segala ketentuan selama umrah. Lupakan segala sesuatu yang akan mengingatkan kepada dunia dan tanggalkan segala yang membedakan kita dari orang lain, yaitu:

Pemakaian baju ihram menandai pelepasan topeng yang menutupi wajah dan berbagai kepalsuan yang menyelimuti diri. Segala atribut pangkat dan status sosial pun luruh dengan memakai kain ihram berwarna putih sebagai perlambang kesejatian seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibu.

Pakaian selain menjadi menutup aurat, juga melambangkan status yang menciptakan batasan-batasan di antara manusia. Berbagai pembatasan, ego dan keangkuhan di kuburkan di Miqat digantikan pakaian ihram yang bentuk dan warnanya sama sehingga manusia menjadi satu tanpa perbedaan kedudukan dan kelas sosial. Baju ihram yang serba putih menyindir siapa saja yang masih mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan klasifikasi status sosial sekaligus menyimbolkan berdiri tegaknya konsepsi “kita” dan tumbangnya egosentrisme sektoral dan arogansi kekuatan serta mengokohkan ibadah haji sebagai gerakan egaliter dan monotheisme yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim AS, bapak agama-agama langit (Yahudi, Kristen dan Islam).

Dengan kain ihram berwarna putih, semua manusia bergerak bagai partikel kecil dengan tidak ada perbedaan, melebur menjadi satu Ummah menuju Allah. Sejak itu kalimah talbiyah dikumandangkan dengan tiada henti. Langit dan bumi hadir di Miqat menyaksikan sosok manusia yang dilahirkan kembali. Dari Jedah, jamaah haji melanjutkan perjalanan dengan bis menuju tanah suci Mekah dengan menempuh perjalanan sekitar 1 jam saja.

Tentang Miqat

Perintah Haji merupakan ibadah yang terikat pada ketentuan waktu dan tempat yang dibatasi oleh 2 jenis miqat yaitu:

a. Miqat Zamani, yaitu batas waktu niat berhaji sesuai perhitungan bulan yang dimulai dari bulan Syawal hingga tanggal 9 bulan Dzulhijah sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Baqarah 197: ”(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

b. Miqat Makani, yaitu batas tempat untuk mulai melakukan ihram sebagai tanda mengharamkan diri dari perbuatan yang membatalkan ihram. Miqat Makani berbeda tergantung arah datangnya jamaah haji ke Mekah.

Batas miqat makani ditentukan oleh Rasulullah yaitu :

1. Qarnul Manazil, bagi jamah yang berasal dari Bahrain/Qatar/Emirat Arab.

2. Yalamlam, bagi yang berasal dari Yaman

3. Dzatu Iraq, Bagi yang berasal dari Iraq.

4. Dzulhulaifah (Bir Ali) bagi yang berasal dari Madinah.

5. Juhfah bagi yang berasal dari Mesir.

Bagi jamaah yang sudah berada di Tanah haram Mekah, jika ingin melakukan umrah harus keluar tanah haram dan berihram dari miqat yang telah ditentukan Rasululllah yaitu: Ji’ranah (20 km dari Masjidl haram), Tan’im (7 km), atau Hudaibiyah (20 km). Sedangkan untuk berhaji, miqatnya adalah rumah masing-masing.

Memasuki Tanah Suci Mekah

Untuk memasuki tanah suci Mekah, terdapat beberapa cek point yang harus dilalui sebagai pos pemeriksaan. Rasulullah pada saat Futuh Mekah tahun 9 H menetapkan Makah dan Madinah sebagai tanah suci yang tidak boleh dimasuki oleh non muslim. Karena itu Rasulullah menetapkan batas-batasnya berdasarkan petunjuk Allah sekaligus menegaskan kembali batas yang ditandai oleh Nabi Adam dan Ibrahim pada jaman dahulu. Hal ini sejalan firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Semakin mendekat ke tanah Mekah suasana menjadi semakin syahdu. Hatipun bergetar sembari istighfar, berdoa dan bertafakur. Setelah menempuh perjalanan demikian jauh, akhirnya tibalah kita di penginapan untuk merapikan barang bawaan dan beristirahat sejenak. Namun rasanya hati ini sudah tidak sabar lagi ingin segera menuju Masjidil Haram menemui Kabah yang selama ini diidam-idamkan dan menjadi pusat arah Shalat.

”Ya Allah, tanah ini tanah HaramMu dan tempat amanmu. Seiring hamba datang, sudilah kau hindarkan daging, darah, rambut dan kulitku dari SiksaMu. Selamatkan diriku dari SiksaMu di hari kau bangkitkan HambaMu. Jadikan aku orang yang dekat dan selalu taat kepadaMu.”

This entry was posted in HAJI, Islam. Bookmark the permalink.

One Response to PROSESI KEBERANGKATAN

  1. nice journey..and good story..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s