Catatan Kang Kabayan

Entries tagged as ‘HAJI’

Makna Ibadah Haji & Umrah

November 23, 2008 · Leave a Comment

Haji adalah kewajiban ibadah yang merupakan perintah Allah dalam Rukun Islam sesuai sabda Nabi Muhammad SAW:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا وَرَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam ditegakkan di atas lima perkara, persaksian bahwasanya tiada Ilah yang sebenarnya selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasul utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan ibadah haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan.” ( HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Pada hakekatnya Haji adalah puncak pencapaian spiritual seorang Muslim khususnya bagi orang yang mampu secara fisik dan materi. Mampu tidak berarti harus kaya raya karena banyak juga orang kaya namun belum berhaji, sementara banyak orang yang tidak kaya malah mampu melaksanakan Haji.

Di dalam ibadah Haji terdapat kegiatan fisik, lisan, dan rohani serta pengorbanan jiwa, waktu maupun harta.

Kegiatan fisik berupa Perjalanan yang jauh ke Saudi Arabia beserta berbagai ritual kegiatan haji yang melelahkan karena harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain dalam waktu singkat antara Makah, Arafah, Muzdalifah dan Mina. Kegiatan lisan berupa senandung talbiyah, takbir, dzikir, dan doa untuk mengagungkan  Allah di atas puncak kebesaran-Nya. Sedangkan kegiatan rohani berupa penjagaan hati agar selalu bersih, ikhlas dan lurus dalam upaya mencapai haji Mabrur disertai serta penyerahan diri untuk mencari ridho Allah.

Ibadah Haji dan Umrah adalah perjalanan suci yang penuh simbol, pelajaran dan cermin napak tilas penegakan ajaran tauhid para Nabi dan Rasul terdahulu.  Pelajaran tersebut dikemas dalam pertunjukan kolosal yang menampilkan pewarisan ajaran Monotheisme dari generasi ke generasi. Jamaah haji bertindak sebagai aktor dengan memerankan Nabi Adam pada satu kesempatan, dan juga menjadi Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail pada kesempatan lain.

Agar peran tersebut bermakna diperlukan penghayatan agar ibadah haji tidak terjebak sekedar simbol, ritual, dan rekreasi mental yang dapat menyebabkan pesan dan makna ibadah haji tidak sampai pada pelakunya.

Hakikat ritual haji diuraikan secara provokatif oleh cendekiawan Iran, alm Dr. Ali Syariati dalam bukunya “Makna Haji” yang memaparkan bahwa haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian manusia.

Menurut beliau, Haji dimaksudkan untuk mengingatkan kembali hakikat kita sebagai manusia dan posisinya di alam semesta.

Melalui thawaf Allah menunjukkan kepada manusia bagaimana cara kerja alam semesta.  Sebagaimana halnya planet, tata surya dan galaxi, yang harus berputar di orbitnya masing-masing mengikuti suatu hukum alam semesta yang penuh dengan keteraturan; maka manusia harus ikut berputar mengikuti sunnatullah agar bisa selamat.  Dengan thawaf, manusia diajarkan untuk tidak diam di pinggiran menjadi sekedar penonton, melainkan harus ikut meleburkan diri dalam pusaran kafilah manusia yang akan membawanya menuju Allah.

Melalui Jumrah, Allah mengingatkan kepada manusia siapa musuh besar yang sesungguhnya yaitu Syaithan laknatullah. Ditunjukkan kepada manusia bahwa Syetan tidak pernah berhenti menipu dan bisa datang kepada manusia dengan seribu satu wajah yang berbeda.  Allah melambangkan wajah Syetan dalam 3 tugu berbeda yang dapat dimaknai sebagai tiga wajah yaitu : Wajah Fir’aun (lambang kekuasaan), Wajah Qarun (lambang harta), dan wajah Bal’am (lambang intelektualitas).

Melalui Wukuf, kita diingatkan kembali pada peristiwa pertemuan kembali Adam dan Hawa di Jabal Rahmah padang Arafah. Keduanya diturunkan ke bumi oleh Allah secara terpisah sebagai hukuman akibat terpedaya bujuk rayu iblis.  Melalui perjuangan tak kenal lelah, keduanya dipertemukan kembali oleh Allah di Jabal Rahmah dan diabadikan melalui prosesi wukuf di Arafah. Selain  itu Allah SWT melimpahkan kasih sayang kepada keduanya melalui pengampunan atas kesalahan mereka yang telah melanggar perintah Allah.  Pengampunan Allah tersebut juga berlaku kepada seluruh keturunan keduanya yang berkumpul di Arafah pada hari Wukuf.  Wukuf sekaligus mematahkan mitos yang menyatakan bahwa manusia lahir memikul dosa yang disebabkan oleh perilaku Adam dan Hawa. Allah menunjukkan kasih sayangnya kepada seluruh alam semesta, bahwa dosa Adam dan Hawa beserta manusia seluruhnya akan mendapat pengampunan, selama mereka memintanya.

Melalui mabit di Mina kita diajarkan keteladanan perjuangan Ibrahim a.s yang telah berhasil mengatasi berbagai ujian keimanan dan bujuk rayu syetan melalui pengorbanan terbesar dalam sejarah manusia yaitu Ismail a.s. Allah telah mengangkat Ibrahim menjadi kekasihnya dan menjadi imam panutan seluruh ummat manusia karena lulus dari berbagai ujian yang telah diberikan oleh Allah.  Oleh karena itu, manusia dipersilakan datang ke Mina untuk mengambil hikmah dari perjalanan hidup Ibramin beserta keluarganya (Hajar dan Ismail).

Oleh karena itu pada saat berhaji, pastikan kita mendapatkan hikmah dan pelajaran yang ingin Allah sampaikan melalui berbagai prosesi Haji.

Mulailah dengan pertanyaan besar tentang diri kita : Jiwa mana yang kita bawa dalam berhaji. Apakah Jiwa yang hendak bertekuk lutut  mengakui kehinaan dirinya di hadapan Tuhan, ataukah jiwa yang hendak ‘memperalat’ Tuhan demi status baru sebagai Haji yang ingin dihormati oleh sekelilingnya ? Ataukah jiwa yang haus gelar dan ingin dihormati ?  Ataukah jiwa yang menginginkan rekreasi mental berlibur ke tanah suci, yang melarikan diri dari himpitan dosa untuk kemudian kembali berbuat dosa?

Rasulullah SAW mengingatkan dalam sabdanya: “Kelak di akhir jaman, manusia pergi haji terdiri dari beberapa kelompok: Para penguasa pergi haji untuk berwisata, para hartawan untuk berdagang, para fakir miskin untuk meminta-minta dan alim ulama untuk mendapatkan nama dan pujian” (Hadits).

Sebagai tamu Allah yang diundang ke rumahNya, kedatangan para jamaah Haji dimuliakan oleh Allah Swt. dengan janjinya untuk mengabulkan apapun yang diminta tamunya tersebut. Sungguh luar biasa penghormatan Allah kepada hambanya yang melaksanakan Haji sampai-sampai disetarakan keutamaannya dengan berperang di Jalan Allah.

Sabda Rasulullah saw: “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka dan mereka menjawab panggilan itu. Karena itu ketika mereka meminta KepadaNya maka Allah mengabulkannya” (Al Hadits)

“Wahai Rasulullah bukankah jihad itu adalah amal yang paling utama? Jawab Rasul: “Jihad yang paling utama adalah Haji mabrur” (HR Bukhari).

Allah SWT sungguh bangga dengan kedatangan para tamunya yang datang dari berbagai pelosok untuk berkumpul di rumahNya dan memuliakan namanya. Sebagai balasannya maka Allah mengaruniakan penghapusan dosa kolosal bagi para tamunya yang bertumpuk  sejak mereka dilahirkan hingga selesai melaksanakan ibadah haji sebagai suatu karunia terbesar dalam hidupnya. Penghapusan dosa kolosal tersebut termasuk untuk dosa-dosa besar yang hanya dapat dihilangkan melalui wukuf di Arafah.  Allah berfirman dalam Hadits Qudsi berikut:

“Allah berkata kepada para Malaikat: ’Lihatlah hamba-hambaKu! Mereka datang kepadaKu dengan rambut kusut dan berdebu karena berharap rahmatKu. Aku bersaksi kepadamu bahwa Aku telah mengampuni mereka’” (HR Ahmad)

”Diantara berbagai dosa, ada dosa yang tidak akan tertebus kecuali dengan wukuf di Arafah” (al Hadits).

Wallahu Alam bis sawab……….

Categories: HAJI · Islam
Tagged: , ,

Dari Penulis

July 23, 2008 · 1 Comment

 

Puji syukur bagi Allah Robbul ‘aalamin yang telah memberikan nikmat dan karuniaNya berupa kesempatan kepada hambaNya untuk mengunjungi Baitullah di Tanah Suci. Shalawat dan salam semoga terlimpah bagi Rasulullah Muhammad Saw, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir jaman.

Perjalanan melaksanakan ibadah haji adalah pengalaman tak terlupakan yang menyisakan kesan mendalam di hati sanubari. Berdasarkan apa yang disaksikan dan dirasakan, penulis mencoba menguraikan pengalaman tersebut dalam rangkaian kata dan gambar agar dapat dinikmati oleh saudara-saudara seiman dan tidak lekang dimakan zaman.

Tulisan ini diharapkan agar dapat menjadi dorongan dan bekal bagi mereka yang belum berhaji sehingga dapat melaksanakan ibadah haji dengan lebih baik, sedangkan bagi para Hujjaj diharapkan dapat menyegarkan kembali momen-momen haji sehingga maknanya selalu membayangi setiap langkah kehidupan.

Prosesi ibadah umrah dan haji diuraikan secara kronologis disertai tinjauan sejarah, hikmah, teladan dan makna yang terkandung. Penulis menyertakan gambar, diagram, dan foto yang diharapkan dapat bercerita lebih banyak dibandingkan sekedar untaian kata, karena sebuah gambar dapat mewakili sejuta kata.

Penulis memaparkan juga kiat-kiat pasca melaksanakan ibadah haji untuk menjamin kemabruran haji yang seharusnya tidak hanya nampak saat menjalankan ritual haji di tanah suci, namun harus berbekas dalam kehidupan sehari-hari sebagai aplikasi dari hikmah dan keutamaan ibadah haji.

Tulis ini sendiri tidak sepenuhnya merupakan hasil pemikiran penulis, banyak diantaranya merupakan cuplikan dari berbagai buku (antara lain Makna Haji-Ali Syariati dan Antar aku ke Tanah Suci-Miftah Faridl) serta dari berbagai tulisan-tulisan di internet.

Terima kasih kepada ayah bunda (H. Amung Surmana dan Hj Suparsih) yang pada saat menunaikan ibadah haji tahun 1990 telah mendoakan putranya agar dapat melaksanakan ibadah haji sebagaimana yang telah mereka laksanakan. Alhamdulillahi robbil ‘aalaminn, doa keduanya dikabulkan Allah selang 17 tahun kemudian. Benarlah janji Allah bahwa apabila kita berdoa kepadaNya, maka Insya Allah doa kita akan terkabul cepat atau lambat, atas ijin dari Allah.

Terima kasih juga kepada Istri Tercinta, Hj Dini Mardiani yang telah bersusah payah mengupayakan keberangkatan haji pada tahun 2007. Betapa berliku perjuangan yang harus dilalui untuk mendapatkan kepastian keberangkatan, menyiapkan perbekalan serta menjadi pendamping setia selama perjalanan haji.

Pertama kali mencanangkan ibadah haji tahun 1997 akhirnya tahun 2006 kami mendaftarkan diri ke Kantor Departemen Agama, namun quota haji untuk DKI Jakarta sudah penuh sehingga niat berhaji baru terlaksana pada tahun 2007. Ternyata walaupun secara fisik, mental dan finansial kita sudah siap dan mampu, namun tanpa ijin Allah, rencana berhaji belum tentu bisa terwujud. Yang terpenting adalah harapan yang selalu dijaga agar Allah bersedia menerima kita di RumahNya.

Tak lupa rasa terima kasih kepada para sahabat yang telah memberikan inspirasi dan semangat sehingga memungkinkan tersusunnya tulisan ini, khususnya kepada:

  • H. Bambang Subekti, H. Wawan Darmawan, Nandar Suhendar, H. Artono Wakidjo, H. Abdus Somad Arief, dan H. Ilmianto atas inspirasi dan sharing pengalamannya;
  • H. Agus Rohmat, H. Sawung Gogor, H. Helmi Adam, dan H Aunur Rofiq (Opick) atas diskusi dan kebersamaan selama melaksanakan Haji;
  • Pengurus dan Muthawwif BPIH NRA atas pelayanannya selama melaksanakan ibadah haji.

Akhir kata, mohon maaf bila dalam penulisan ini ada kesalahan dan kekurangan yang semua itu tidak lepas dari kelemahan manusia sebagai hambaNya yang tidak sempurna. Semoga bermanfaat dan diterima Allah swt sebagai setetes amal jariah untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Jakarta, 29 Februari 2008

Wassalam,

Dudy Effendi

Categories: HAJI · Islam
Tagged: , ,

MANASIK HAJI RASULULLAH

July 23, 2008 · Leave a Comment

Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan ibadah Haji yang benar, kita perlu mempelajari manasik haji Rasulullah SAW yang digambarkan sahabat Jabir bin Abdullah RA sebagai berikut:
“Saat Rasulullah SAW telah tinggal di kota Madinah selama sembilan tahun, diumumkan kepada manusia bahwasanya Rasulullah Saw akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ke sepuluh Hijriyah. Maka para Sahabat berdatangan ke kota Madinah, berharap akan mengikuti tata cara haji Rasulullah SAW dan melakukan seperti apa yang dilakukan beliau. Kami keluar bersama beliau hingga tiba di Dzul Hulaifah. Di sana Asma’ binti Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakar, maka ia mengutus seseorang kepada Rasulullah SAW untuk bertanya apa yang harus diperbuatnya, beliaupun bersabda: “Mandilah dan tutuplah tempat keluar darah dengan kain dan berihramlah!”. Kemudian Rasulullah SAW melaksanakan shalat di masjid.

A. Rasulullah Berihram.
Kemudian beliau menaiki Unta beliau (Al Qashwa’) hingga setelah berada di tengah padang pasir terbuka, beliau berihram dengan mengucapkan niat berhaji “Labbaik allohumma Hajjan”.
Maka aku melihat sepanjang mata memandang, para jama’ah haji yang menggunakan kendaraan dan yang berjalan, berada di depan, di sisi kiri, di sisi kanan dan di belakang dengan Rasulullah SAW berada di tengah-tengah kami. Apa saja yang beliau lakukan kamipun melakukannya. Selanjutnya beliau mengangkat suaranya dengan membaca “talbiyah”:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيَكَ لَكَ

Manusia pun mengangkat suara mereka sambil bertalbiyah, maka Rasulullah SAW tidak membantah mereka sedikitpun dari talbiyah mereka itu, sedangkan Rasulullah SAW terus menetapi talbiyahnya. Saat itu kami tidak berniat kecuali haji, karena saat itu kami tidak mengetahui umrah.

B. Memasuki Kota Makkah dan Thawaf

“Tatkala kami telah sampai di Baitullah, beliau mengusap Hajar Aswad, lalu thawaf dengan berlari-lari kecil pada tiga putaran dan berjalan seperti biasa pada empat putaran berikutnya. Lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim As dan membaca QS Al Baqarah 125: “Wattakhidzuu mimmaqaami Ibraahiim mushala”.
Beliau jadikan maqam Ibrahim terletak di antara beliau dan Ka’bah, lalu beliau shalat dua rakaat dengan membaca Al Kaafiruun pada rakaat pertama dan Al Ikhlas pada rakaat kedua. Setelah shalat, beliau menuju ke sumur zam-zam, lalu minum air zam-zam, dan menuangkannya di atas kepala beliau, kemudian beliau kembali ke Hajar Aswad, lalu mengusapnya.

C. Berdiri di Atas Bukit Shafa dan Marwah

Kemudian beliau menuju ke bukit Shafa. Setelah mendekati bukit Shafa, beliau membaca QS Al Baqarah 158: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang-siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha-mengetahui.”

Lalu beliau menaiki bukit Shafa hingga beliau melihat Ka’bah, kemudian menghadap ke arah Ka’bah. Maka beliaupun mengucapkan: ”Tiada Ilah yang haq kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada Ilah yang haq, kecuali Dia yang Maha esa, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan golongan yang bersekutu dengan sendirian.”

Lalu beliau berdo’a, mengucapkan bacaan ini sebanyak tiga kali. Kemudian beliau turun dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwah. Ketika kedua kakinya menginjak ditengah lembah, beliau berlari, sedangkan ketika kedua kakinya mulai mendaki, beliau berjalan seperti biasa. Saat tiba di Marwah, beliau menaikinya hingga melihat Baitullah, dan beliau melakukan apa yang beliau lakukan di Shafa.

D. Perintah Nabi SAW Untuk Menjadikan Haji Mereka Sebagai Umrah.

Pada akhir putaran sa’inya ketika berada di bukit Marwah, beliau bersabda: “Hai sekalian manusia, seandainya aku mengetahui apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan membawa binatang hadyu, dan akan kujadikan hajiku ini sebagai umrah, maka barangsiapa di antara kalian yang tidak menyertakan binatang hadyu bersamanya hendaklah ia bertahallul dan menjadikan amalannya berupa thawaf dan sa’i sebagai umrah.”

Suraqah bin Malik bin Ju’syum yang berada di kaki bukit Marwah bertanya: “Ya Rasulullah, Apakah umrah di bulan Haji khusus untuk tahun ini saja ataukah untuk selamanya? Rasulullah berkata: ‘Umrah telah masuk dalam haji’ (sampai hari Kiamat), bahkan sampai selama-lamanya.”
Pada hari ke 7 Dzulhijah Rasulullah menyampaikan Khutbah Pertama di lembah Bathha sebelah Timur Baitullah yang isinya:
“Wahai ummat manusia, pelajarilah cara melaksanakan manasik haji dariku, karena mungkin kalian tidak akan menemuiku lagi setelah tahun ini. Demi Allah, wahai sekalian manusia Apakah kalian mengetahui aku? Sungguh kalian telah mengetahui bahwasanya aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah di antara kamu, paling jujur dan paling berbakti. Laksanakanlah apa yang kuperintahkan kepada kalian, karena pada hakikatnya kalau bukan karena binatang hadyu, niscaya aku akan bertahallul sebagaimana kalian bertahallul. Akan tetapi aku tidak bertahallul dari ihramku ini, sehingga binatang ini tiba di tempat penyembelihannya. Seandainya dahulu aku mengetahui dalam urusan ini apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan menggiring binatang hadyu.”

Maka bertahallullah semua jama’ah haji yang menyertai Rasulullah, kecuali Nabi SAW dan mereka yang telah membawa binatang hadyu. Rasulullah tinggal di Mekah selama 4 hari. Dengan demikian Rasulullah melaksanakan Haji Ifrad bersama 100 lebih sahabat sedangkan yang lain atas petunjuk Rasulullah melakukan Haji Tamattu.

F. Kedatangan ‘Ali bin Abi Thalib Dari Negeri Yaman.

Ali bin Abi Thalib tiba dari Yaman dengan membawa sejumlah unta, lalu ia mendapati Fathimah termasuk yang bertahallul, memakai pakaian yang dicelup dan memakai celak mata, maka ‘Ali mengingkari hal itu. Fathimah berkata: “Sesungguhnya aku diperintahkan ayahku untuk bertahallul.”
Ali berkata: “Maka aku pergi kepada Rasulullah SAW, dan aku menyayangkan apa yang telah dilakukan Fathimah sambil meminta fatwa kepada Rasulullah SAW tentang apa yang disebutkan oleh Fathimah. Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa aku mengingkari perbuatan Fathimah, maka beliau berkata: ” Dia (Fathimah) benar, dia benar!. Dan beliau berkata kepada ‘Ali: ‘Apa yang kamu ucapkan ketika kamu haji?’ ‘Ali berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku berihram dengan apa yang RasulMu berihram dengannya.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya bersamaku ada binatang hadyu, maka janganlah kamu bertahallul.”

G. Menuju Mina Pada Hari Tarwiyah.

Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijah), jama’ah haji berangkat menuju Mina. Mereka berihram haji dengan mengucapkan: ”Labbaik Allohumma Hajjan”. Kemudian Rasulullah SAW menemui ‘Aisyah RA yang sedang menangis, maka beliau berkata: “Apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis?” Aisyah berkata: “Aku sedang haidh sedangkan jama’ah haji telah bertahallul dan aku belum bertahallul, dan belum melaksanakan thawaf di Baitullah, sementara orang-orang berangkat ke haji sekarang ini.” Maka beliaupun bersabda: “Sesungguhnya haidh itu adalah perkara yang telah ditentukan Allah atas para wanita, maka mandilah kemudian ucapkanlah talbiyah, lalu hajilah dan lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah dan tidak boleh shalat ”
Kemudian Rasulullah SAW mengendarai untanya untuk berangkat ke Mina. Beliau melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh. Beliau menunggu disana hingga matahari terbit, lalu menyuruh mendirikan kemah dari bulu unta untuk berteduh ketika wuquf di Namirah.

H. Berangkat Menuju ‘Arafah.

Lalu berangkatlah Rasulullah SAW dan orang-orang Quraisy. Namun beliau berhenti di Masy’aril Haram yang terletak di Muzdalifah. Di situlah beliau turun, sebagaimana yang dilakukan orang Quraisy di zaman Jahiliyyah. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya hingga mendatangi padang ‘Arafah, dan beliau jumpai kemah beliau telah dibangun di Namirah, lalu beliau turun di tempat tersebut, hingga ketika matahari telah tergelincir, beliau memerintahkan agar unta beliau segera dipasang pelananya, lalu beliau melanjutkan perjalanannya dan memasuki tengah lembah untuk menyampaikan khutbah.
I. Khutbah Rasulullah SAW di Arafah.
“Sesungguhnya darah dan harta kalian haram atas kamu sekalian seperti haramnya harimu ini, di bulanmu ini, di negerimu ini. Ketahuilah segala sesuatu dari perkara Jahiliyyah diletakkan di bawah kedua telapak kakiku ini. Darah-darah di zaman Jahiliyyah diletakkan (dibatalkan dari tuntutan) dan darah pertama yang dibatalkan di antara tuntutan darah-darah kami adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits, dia adalah seorang anak yang disusukan di kalangan Bani Sa’ad, lalu ia dibunuh oleh seorang dari suku Hudzail. Riba Jahiliyyah pun dibatalkan dan riba pertama yang aku batalkan adalah riba milik ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, semua riba itu dibatalkan. Bertakwalah kamu kepada Allah dalam (memperlakukan) para isteri, karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban mereka atasmu yaitu mereka tidak boleh mempersilahkan seorangpun yang tidak kamu senangi untuk masuk ke rumahmu. Dan apabila mereka melanggar hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras dan tidak menyakitkan. Dan kewajibanmu atas mereka yaitu memberi rizki dan pakaian dengan cara yang baik.”
“Dan bahwasanya telah kutinggalkan padamu sesuatu yang menyebabkan kamu tidak akan tersesat selama-lamanya jika kamu berpegang teguh padanya, yaitu “Kitabullah”. Dan kamu akan ditanya tentangku, maka apakah jawaban kalian? Para Sahabat berkata: “Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan menasihati ummat”. Lalu beliaupun bersabda sambil mengangkat jari telunjuknya ke langit dan menggerakkannya kepada para Sahabat: ‘Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah. Ya Allah saksikanlah”.

J. Menjama Shalat di ‘Arafah.
Kemudian Bilal mengumandangkan adzan satu kali, lalu membaca iqamah, maka Nabi pun melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian Bilal membaca iqamah sekali lagi, lalu Rasulullah Saw melaksanakan shalat ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara kedua shalat tersebut. Kemudian beliau menaiki untanya hingga tiba di tempat wuquf, beliau menjadikan perut untanya, al-Qashwa’, rapat ke batu-batu gunung dan menjadikan tempat berkumpulnya para pejalan kaki berada didepannya, beliau menghadap ke arah kiblat dan tetap wuquf hingga matahari terbenam dan hilangnya mega kuning.
K. Bertolak Dari ‘Arafah.
Rasulullah Saw bertolak dari ‘Arafah dengan penuh ketenangan, beliau menyempitkan kekang unta al-Qashwa’ hingga kepala unta itu menyentuh tempat meletakkan kaki yang ada di kendaraan itu. Dan beliau memberikan isyarat dengan tangan kanannya seraya bersabda:
أَيُّهَاالنَّاسُ السَّكِيْنَةَ! السَّكِيْنَةَ!
“Wahai sekalian manusia tenanglah, tenanglah!”
L. Menginap di Muzdalifah.
Sesampainya di Muzdalifah, beliau melaksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya’ dengan satu adzan dua iqamah, beliau tidak shalat sunnah di antara kedua shalat itu. Kemudian beliau berbaring hingga terbit fajar Shubuh, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh setelah kelihatan jelas masuknya waktu Shubuh dengan satu kali adzan dan satu kali iqamah.
M. Wuquf di Masy’aril Haram (Muzdalifah)
Kemudian Rasulullah SAW naik al-Qashwa’ hingga tiba di Masy’aril Haram, beliau langsung menghadap kiblat lalu berdo’a kepada Allah, bertakbir dan bertahlil serta mentauhidkan-Nya. Beliau terus melaksanakan wuquf ini hingga pagi hari telah sangat terang dan beliau berkata: “Aku wukuf disini dan seluruh lokasi Muzdalifah adalah tempat wukuf.”
N. Bertolak dari Muzdalifah untuk Melempar Jumratul ‘Aqabah.
Sebelum matahari terbit, beliau bertolak dari Muzdalifah ke Mina. Beliau membonceng Fadhl bin ‘Abbas hingga beliau tiba di lembah “Muhassir” dan sedikit mempercepat gerak untanya.
Kemudian beliau menempuh jalan tengah yang tembus keluar menuju Jumratul Kubra hingga tiba di Jamrah yang terletak di dekat pohon kemudian beliau melontarnya dengan tujuh batu kecil sambil bertakbir pada setiap lontaran yang batunya sebesar batu ketapel, beliau melontarnya dari tengah-tengah lembah sambil berkata:
لِتَأْخُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِي لَعَلِّى لاَ أَحُج بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ
“Ambillah dariku manasik haji kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, bisa jadi aku tidak akan melaksanakan ibadah haji lagi setelah hajiku ini.”
O. Menyembelih Binatang Hadyu dan Mencukur Gundul Rambut Kepala
Lalu beliau berangkat menuju lokasi penyembelihan dan menyembelih 63 ekor unta dengan tangan beliau, kemudian sisanya diserahkan kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Binatang kurban yang selebihnya disembelih oleh ‘Ali dan digabungkan dengan binatang hadyunya. Lalu beliau memerintahkan untuk mengambil sepotong daging dari setiap satu ekor unta hadyunya, kemudian dimasukkan kedalam periuk untuk dimasak. Lalu beliau makan dari daging kurban itu dan meminum air kuahnya.
Rasulullah SAW lalu mencukur rambut kepalanya sampai bersih, dan duduk di Mina pada hari Nahar (10 Dzulhijah). Maka tidaklah beliau ditanya tentang suatu pekerjaan yang didahulukan sebelum yang lainnya, melainkan beliau menjawab: “Tidak mengapa, tidak mengapa.”
Pada hari Nahar, Rasulullah berkhutbah yang berisi pelajaran amaliyah pada hari tasyriq dan penegasan tentang kehormatan tanah haram dan bulan haji. Khutbah keempat Rasulullah disampaikan pada tangga 12 Dzulhijah setelah Dzuhur bertepatan dengan turunnya ayat terakhir al Quran yaitu Al Maidah :3
tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ 4ø
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.
P. Menuju Makkah untuk Thawaf Ifadhah.
Selanjutnya Rasulullah SAW mengendarai untanya ke Baitullah untuk melaksanakan thawaf ifadhah dan shalat Zhuhur di Makkah. Kemudian beliau mendatangi Bani ‘Abdul Muththalib yang sedang memberi minum air zam-zam, lalu berkata: “Timbalah zam-zam itu wahai Bani ‘Abdul Muththalib, kalau sekiranya (aku tidak merasa khawatir) kamu akan dikalahkan oleh para jama’ah haji atas pemberian minum ini, tentu aku akan menimba dengan kalian, kemudian mereka menyerahkan setimba air zam-zam kepada beliau, maka beliaupun meminumnya.”
Kronologis pelaksanaaan haji Rasulullah selengkapnya adalah sbb:

8 Dzulhijah (hari pertama)

a. Berihram dari Miqat.
b. Berangkat menuju Mina melaksanakan Mabit atau Tarwiyah dan melaksanakan lima sholat secara qashar tanpa jama’ selama di Mina. Jika situasi tidak memungkinkan boleh langsung ke Arafah.

9 Dzulhijah (hari kedua)

c. Menuju Arafah untuk melaksanakan Wukuf sebagai rukun haji mulai dari Bada dzuhur sampai Magrib.
d. Selama wukuf melakukan kegiatan mendengarkan khutbah wukuf, berdoa, dzikir, membaca qur’an dan bertaubat.
e. Shalat dzuhur dan ashar dilaksanakan secara jama taqdim dan qashar.

10 Dzulhijah (malam)

f. Berangkat menuju Muzdalifah untuk Mabit.
g. Shalat magrib dan isya dijama takhir dan qasar.
h. Mengumpulkan batu kerikil untuk jumrah sebanyak 49 atau 70 butir.
i. Shalat subuh menuju masy’aril Haram.
j. Berangkat ke Mina

10 Dzulhijah (hari ketiga)

k. Melontar Jumrah Aqobah (Waktu Dluha)
l. Tahalul awal dan berganti pakaian.
m. Berkurban
n. Menuju Mekah untuk thawaf ifadah dan sai.
o. Setelah Thawaf dan sai, tahalul tsani.
p. Sebelum Magrib segera menuju Mina untuk Mabit.

11 & 12 (Nafar awal) atau 13 Dzulhijah (Nafar tsani/akhir)

q. Bermalam di Mina.
r. Melontar 3 jumrah setiap hari bada zawal.
s. Shalat diqashar tanpa dijama’.
t. Thawaf Ifadhah dan Sai ke Mekah bagi yang belum.
u. Melaksanakan umrah bagi yang melaksanakan Ifrad.
v. Bagi yang melaksanakan nafar awal, pulang ke Mekah sebelum Magrib.

Thawaf Wada

w. Dilaksanakan menjelang kepulangan ke tanah air.
x. Thawaf wada’ dapat digabung dengan Thawaf ifadhah, jika setelah ifadhah langsung pulang ke tanah air.

Skema perjalanan Rasulullah SAW jika digambarkan sebagai berikut:

Ibadah haji penuh dengan pergerakan dari satu tempat ke tempat lain yang merupakan suatu tamsil yang bermakna bahwa hidup ini penuh dengan pergerakan dan pada dasarnya adalah perpindahan dari satu alam ke alam lain: Alam Ruhà Alam Rahim à Alam Dunia à Alam Barzah à Alam Makhsyar à Alam Akhirat (syurga atau neraka).

Categories: HAJI · Islam
Tagged: , ,