Catatan Kang Kabayan

Entries from October 2008

DAYS ARE NUMBER

October 25, 2008 · Leave a Comment

by Alan Parson Project

Life is a journey as I made it as my blog Header. One son that I love to sing and picture that beautifully is “Days are Number”.
As a Traveler in Time journey, we can only walk or run or sometime stop by. We come to one episode of time leaving it and then come to another episode.
Please enjoy and relax to hear Alan Parson’s “Days are number”.

The traveller is always leaving town
He never has the time to turn around
And if the road he’s taken isn’t leading anywhere
He seems to be completely unaware

The traveller is always leaving home
The only kind of life he’s ever known
When every moment seems to be
A race against the time
There’s always one more mountain left to climb

Days are numbers
Watch the stars
We can only see so far
Someday, you’ll know where you are
Remember
Days are numbers
Count the stars
We can only go so far
One day, you’ll know where you are

The traveller awaits the morning tide
He doesn’t know what’s on the other side
But something deep inside of him
Keeps telling him to go
He hasn’t found a reason to say no

The traveller is only passing through
He cannot understand your point of view
Abandoning reality, unsure of what he’ll find
The traveller in me is close behind

Days are numbers
Watch the stars
We can only see so far
Someday, you’ll know where you are
Remember
Days are numbers
Count the stars
We can only go so far
One day, you’ll know where you are

Categories: musik
Tagged:

OLD AND WISE

October 25, 2008 · Leave a Comment

Lagu ini memang terasa sendu. Mengingatkan diriku bahwa dengan berjalannya waktu, kita akan menjadi tua. Namun apakah menjadi tua menjadikan kita menjadi lebih bijak.  Menjadi tua adalah proses alamiah bagi semua orang dan makhluk.

Alan Parson mengingatkan bahwa ada sesuatu yang mengintai dan mendekati diri kita yaitu Maut yang diibaratkan sebagai Shadow. Pertanyaan besar apakah yang akan kita wariskan kepada orang-orang yang kita tinggalkan ?

Old and Wise

by Alan Parson

As far as my eyes can see
There are Shadows approaching me
And to those I left behind
I wanted you to Know
You’ve always shared my deepest thoughts

You follow where I go
And oh when I’m old and wise
Bitter words mean little to me

Autumn Winds will blow right through me
And someday in the mist of time
When they asked me if I knew you I’d smile and say you were a friend of mine
And the sadness would be Lifted from my eyes

Oh when I’m old and wise
As far as my Eyes can see
There are shadows surrounding me

And to those I leave behind
I want you all to know

You’ve always Shared my darkest hours
I’ll miss you when I go

And oh, when I’m old and wise
Heavy words that tossed and blew me
Like Autumn winds that will blow right through me

And someday in the mist of time
When they ask you if you knew me

Remember that You were a frined of mine
As the final curtain falls before my eyes
Oh when I’m Old and wise
As far as my eyes can see

Categories: musik
Tagged: ,

Mencari jalan Menuju Shalat Khusyu

October 1, 2008 · 1 Comment

Shalat dengan khusyu adalah dambaan bagi setiap mukmin dan merupakan keberuntungan terbesar dalam hidup. Hal ini sejalan dengan Firman Allah dalam Al Qur’an Surat Al Mukminun 1-2, “Telah beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya.”

Menurut Abu Sangkan yang menulis buku tentang Shalat Khusyu, prinsip utama adalah jangan ‘mencari’ khusyu’. Cukup siapkan diri untuk ‘menerima’ khusyu’ itu, karena khusyu’ bukan kita yang membuatnya tapi ‘diberi langsung’ oleh Allah sebagai hadiah kita menemuiNya. 

Jadi pada saat shalat, sikap pertama kita adalah santai, nyaman dan rileks. Ibarat kita akan bertemu dengan Pejabat Tinggi, walaupun kita merasakan ketegangan namun kita harus berupaya rileks.  Berat badan mengumpul di kaki, mengakar ke bumi.  Abu Sangkan menggambarkan laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kokoh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh.

Bersikap rileks akan menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ karunia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan.

Shalat terdiri dari 3 komponen : Gerakan Fisik,  Gerakan Ruhani, dan Gerakan verbal dalam bentuk Bacaan.

Gerakan fisik berupa berdiri, rukuk, sujud dan duduk adalah gerakan basic dalam kehidupan. Namun demikian Badan fisik sebenarnya adalah alat yang akan mengantar ruh untuk berjumpa dengan Allah yang telah meniupkan ruh ke dalam badan fisik.

Fisik dan ruhani ibarat two-in-one, keduanya saling mengisi dan membutuhkan. Jika fisik sakit maka jiwa[un sakit begitu juga sebaliknya. Namun antara keduanya juga terdapat gap, maksudnya tidak selalu Fisik sejalan dengan ruhani karena merupakan dua hal yang berbeda.

Dalam hal shalat, Jika kita sholat di belakang imam yang ‘ngebut’ sholatnya bagaimana perasaan kita ? Rasanya Kesal. Baru mau selesai Al Fatihah, eh dia sudah ruku’. mau ruku’ eh dia sudah berdiri I’tidal. Dan seterusnya.

Ketika sholat, selain badan fisik kita ini sholat pula ruh kita.  Justru Ruh inilah yang sebenarnya ingin sholat, sementara fisik ini hanya sarana untuk mengantarnya dengan gerakan dan bacaan.  Sebenarnya Ruh ingin melaksanakan sholat dengan tenang, santai, tuma’ninah. Namun sayangnya ketika Fisik kita shalat ‘ngebut’, maka ruh menjadi jengkel karena selalu ketinggalan gerakan badan. Maka tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku’, tunggu, hingga ruh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, hingga ruh ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingga ruh ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.

Bacaan shalat  selayaknya dibaca dengan suara rendah dan pelan dan diresapi kesendirian untuk menangkap kehadiran Tuhan sesungguhnya amat dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri.   

Sebagai seorang yang pernah belajar Matematika dan Teknik, kondisi sejalan dengan konsep tentang kondisi transient dan steady state. Saat Transient maka sistem masih belum stabil dan berupaya menuju kondisi steady state atau stabil dan itu memang membutuhkan jeda waktu yang disebut waktu transient.

Berikan kesempatan ruh – untuk mengambil sikap sholatnya. Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita.

Karena itu shalatlah dengan Pelan dan Santai. kalau sedang malas baca, diam saja dan nikmati kepasrahan menemui Tuhan sedangkan bacaan sholat adalah sebagai media untuk dialog karena itulah  memang esensi sholat.

Esensi sholat adalah doa, berdialog dengan Allah secara langsung.

Shalat adalah waktu untuk audiensi dan kesempatan untuk mengadukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta dll. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.

Saat ruku’ ruku’lah yang  lama, sambil menarik regang kaki dan punggung saya. Nikmati saja seperti menikmati peregangan bila senam. Saat sujud, tumpukan kepala sebagai tumpuan utama. Nikmat rasanya ‘terpijat’ dahi ini oleh gerak sujud. Saat ruh telah ikut sujud, bacalah dengan penghayatan, “Subhana robbiyal a’laa wa bi hamdih” (Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi dan Maha Terpuji). 

Ketika duduk setelah sujud, baca sepotong-sepotong bacaannya, sesuai tips buku itu.

Robbighfirlii (Ya Tuhan ampunilah aku). 

War hamnii (dan sayangilah aku),

Wajburnii. Diam.

War fa’nii. Diam.

Warzuqnii (beri rizki padaku -Ya Allah),

Wahdinii (tunjukilah aku -karena aku sedang bingung dan tak tahu). Diam,

Wa’aafinii (dan sehatkan aku).

Wa’fuannii (dan maafkan aku).

Rasakan semuanya hingga ruh merasakannya pula. Setelah shalat, sesuai dengan tips buku itu, berdoalah sambil meratap.  Ucapkan hanya, “Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah…”, sambil mengangkat tangan setinggi wajah seperti pengemis.Kalau kita ingin dekat Allah maka kita harus sungguh-sungguh memanggilnya. Demikianlah kalau kita ingin bebas dari maksiat, kata Al Ghazali, maka kita harus panggil dengan betul-betul ketakutan akan maksiat tersebut, kita panggil pelindung kita dengan sungguh-sungguh seakan anak kecil memanggil-manggil ayahnya, maka akan dilindungi kita dari maksiat tersebut.

Categories: Islam
Tagged: